Peran Penting Dalam Upacara Bendera

Siapa yang tak pernah upacara bendera? Setelah menjadi simbol proklamasi kemerdekaan negara kita tercinta ini, upacara bendera di Indonesia ini banyaknya diselenggarakan oleh instansi pemerintah atau pendidikan. Kalau tidak salah ingat, terakhir saya mengikuti upacara bendera itu saat menjadi mahasiswa baru di ITB dulu.

Upacara bendera sebenarnya sederhana saja. Ada upacara dan yang pasti ada benderanya. Pada tulisan ini saya akan memberikan pendapat dan pengalaman saya terhadap peran-peran penting dalam kesuksesan upacara bendera, khususnya upacara bendera di sekolah. Karena saya belum pernah upacara bendera di istana negara. Scroll aja ke bawah.

Peserta Upacara

Dalam suatu upacara bendera, peserta upacara yang saya maksud merupakan peran dengan jumlah terbanyak. Di sekolah sendiri peserta ini siapa lagi kalau bukan siswa itu sendiri.?

Saat saya jadi peserta upacara di sekolah, harapan saya cuma ada dua : Benderanya kebalik atau pidato pembina upacara yang gak lebih dari tujuh menit. Biar berasa ikut kultum gitu.

Kalau kita lihat bentuk piramida, jumlah terbanyak selalu menempati kasta terendah. Begitu pula dengan peserta upacara ini. Nasibnya panas-panasan, berbaris rapat seperti antri sembako, raskin, bayar indomaret, motor yang lagi nunggu giliran jalan di persimpangan jalan, apapun itu. Nasibmu nak.

Pemimpin Barisan

Pemimpin barisan biasanya dipegang oleh ketua kelas, kalau ketua kelas berhalangan hadir, wakilnya lah yang siap 86 menggantikan tugas ketua kelas. Kalau tidak ada juga? Silakan cari seorang anak cowok dari kelas tersebut yang pasrah menjadi tumbal.

Sebenarnya nasibnya si pemimpin barisan ini gak jauh beda sama barisan yang di pimpin. Dia cuma kebagian tampil untuk melaporkan bahwa barisan kelas sudah siap mengikuti upacara kepada komandan upacara.

Yang lucunya dari pemimpin barisan adalah, karena dia punya barisan sendiri, gak ada orang di belakangnya. Jadi kayak anak ilang gitu.

Saya ingat betul pernah menjadi pemimpin barisan ini. Bagaimana nasibnya? Ya seperti yang saya sebutkan sebelumnya.

Pemimpin Upacara

Nah. Ini dia peran yang lumayan kece di setiap upacara bendera. Kenapa saya bilang lumayan kece? Karena si pemimpin upacara ini lah yang menjadi pusat perhatian seluruh peserta upacara. Karena jadi pusat perhatian lah, berbagai pesona bisa kamu keluarkan.

Asal jangan bikin kekonyolan yang keterlaluan aja sih. Bisa-bisa besoknya langsung minta pindah sekolah saking malunya.

Penderitaan menjadi pemimpin upacara juga ada loh. Penderitaan si pemimpin ini tidak terlepas dari pusat perhatian peserta upacara, semua harus sempurna. Kebayang gak sih kalau kepala gatal gara-gara lupa keramas atau ada lalat yang terbang kesana-kemari? I know that feel bro…

Pengibar Bendera

Mengibarkan bendera merah putih di upacara merupakan hal paling keren menurut saya. Bayangkan saja, ratusan orang cuma nunggu elu untuk ngibarin bendera.

Ada beberapa momen kritis yang harus ditangani si pengibar bendera: Proses pembentangan bendera, kalau saya sih lebih suka benderanya kebalik, biar peserta upacara ada kerjaan; Pengibaran bendera, pastikan bendera sampai di puncak tiang bersamaan dengan selesainya lagu Indonesia Raya. Kalau kurang pas, ya atur-atur kelajuan benderanya aja lah.

Alhamdulillah selama jadi pengibar bendera di SMA, semua kondisi masih aman terkendali. Terlebih karena niat buruk saya untuk melihat bendera terbalik tidak pernah terjadi.

Pasukan Pembawa Map

Nah ini sebagian peserta yang tugas utamanya tipikal: membacakan teks dalam map. Beberapa teks yang saya ingat, teks UUD, janji siswa, doa, pancasila.

Teks UUD, terasa panjang saat dibacakan. Terlebih kita harus fokus membacakannya agar tidak terjadi kesalahan pembacaan.

Janji siswa baru saya temukan di SMA. Sepertinya ini opsional. Melihat isinya yang sungguh mulia, saya tidak yakin semua siswa ikut mengucapkannya. Haha.

Teks doa merupakan salah satu yang mengejutkan saya. Selama saya menjadi peserta upacara, saya menduga bahwa teks ditulis dalam bahasa arab. Ternyata dugaan saya salah. Sudah dilakukan transliterasi teks doa ke dalam Bahasa Indonesia.

Saya pernah membacakan semua teks tersebut, kecuali pancasila. Iya, karena peran pembawa teks pancasila tidak sampai membacakannya. Hanya membawa dan menyerahkannya ke pembina upacara.

Kalau dipikir-pikir lucu juga ya posisi pembawa teks pancasila ini, di belakang pembina upacara, mirip ajudan pejabat.

Protokoler

Menjadi protokoler sebenarnya tidak jelek-jelek amat. Membacakan rangkaian upacara dengan seksama.

Sayangnya suara saya yang sebenarnya tidak enak-enak amat untuk didengarkan memaksa peserta untuk bersabar mendengar suara saya ini sampai upacara selesai.

Entah apa alasannya sehingga saya pernah terpilih menjadi protokoler.

Dirigen

Setiap kali saya mendengar istilah dirigen, saya selalu teringat jerigen. Kenapa ya? Yang pasti tidak ada hubungannya.

Menjadi dirigen itu bisa dibilang cukup keren setelah menjadi pemimpin upacara. Bayangkan saja ratusan orang ikut bernyanyi mengikuti arahan sang dirigen. Termasuk orang-orang di belakang si dirigen itu sendiri. Artinya, tak peduli ada si dirigen atau tidak, sepertinya mereka tetap akan bisa bernyanyi asal sudah tiba saatnya. Hahaha.

Pengalaman saya menjadi dirigen saat SD cukup mengesankan. Sejujurnya saya tidak tahu apa yang saya lakukan saat itu namun nyatanya semua bisa menyanyikan lagu-lagu nasional dengan baik. Hahahaha.

Paduan Suara

Kelompok paduan suara adalah sekelompok pasukan yang bertugas menyanyikan lagu nasional yang tidak membutuhkan partisipasi seluruh peserta upacara seperti saat mengheningkan cipta.

Saya sih senang menjadi paduan suara. Karena ketika saya menjadi paduan suara, cukup lipsync saja agar tak terdengar suara sumbang di tengah nyanyian.

Selain itu pasukan paduan suara biasanya ditempatkan di tempat khusus yang teduh. Ena.

Tenaga Medis

Terbaik! Peran yang pastinya disukai semua siswa. Bayangkan saja, dengan menjadi tenaga medis kamu bisa mengikuti upacara dengan lebih santai.

Loh kok santai? Bukannya harus sigap kalau ada korban pingsan?

Ya idealnya seperti itu, fakta berbicara biasanya orang (siswa) yang berdiri paling dekat lah yang harus menggotong korban ke ruang UKS atau ruang kelas terdekat. Hahaha.

Berbeda dengan SMA, waktu SD dulu ada yang namanya dokcil alias dokter kecil! Saya termasuk dokcil waktu SD. Sampai ada sertifikatnya lho! Wuih bangga deh pada saat itu. Padahal… Saat upacara saya juga bingung harus berbuat apa. Paling patroli di belakang barisan.

Murid yang disetrap

Kalau peran ini sih jarang sekali tidak ditemui saat SMA. Entah karena telat, atribut yang tidak lengkap, gondrong, dsb. Pastinya menjadi kelompok murit yang disetrap itu sangat tidak menyenangkan karena posisinya yang pertama kali terpapar sinar matahari. Mateng deh.

Kelompok ini biasanya dapat perpanjangan waktu setelah peserta upacara lainnya membubarkan diri. Bonusnya tentu mendapatkan petuah dan pencatatan nama oleh guru piket yang bertugas.

Saya juga pernah merasakan peran ini karena telat hadir di upacara. Huuuh.

Guru dan Karyawan

Saya tak bisa berbicara banyak untuk peran guru dan karyawan ini. Selain tempatnya yang istimewa, selasar sekolah yang pastinya teduh, guru dan karyawan ini juga cenderung leluasa untuk meninggalkan upacara sementara. Entah itu ke kamar mandi atau ke ruang guru.

Yaa.. Bisa dibilang privilege sebagai guru itu sendiri sih… Hihihi.

Epilog

Huah! Itulah peran penting dalam upacara bendera dengan bahasa nyeleneh dan sudut pandang mantan peserta upcara dengan berbagai macam peran. Sebenarnya ada peran lain yang belum pernah saya rasakan dan sengaja tidak saya sebutkan di atas, menjadi pembina dan bendera upacara!

Kalau kamu sudah pernah merasakan peran apa saja?

11 Replies to “Peran Penting Dalam Upacara Bendera”

  1. Icha

    “Saat saya jadi peserta upacara di sekolah, harapan saya cuma ada dua : Benderanya kebalik…” –> wah, kasian atuh pengibar benderanya 😀

    Salam kenal

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *