Kembali ke Jakarta

Aslinya mana mas?

Wah, kalau ditanya aslinya mana saya juga bingung jawabnya. Meski memiliki darah Bugis Soppeng-Wajo dari Papa dan Darah Sunda Bogor dari Mama, rasanya saya lebih cocok disebut orang Jakarta.

Lah, kok bisa begitu?

Terlahir di kota pinggiran Jakarta, katakanlah Bekasi, membuat hidup saya tidak bisa lepas dari yang namanya kota Jakarta. Mulai dari sekadar melintas maupun singgah di rumah nenek di daerah Tanah Abang. Jakarta sudah menjadi kampung halaman bagi saya.

Tumbuh dan Besar di Jakarta

Kembali ke tahun 90-an, menjadi anak kecil di Jakarta cukuplah membahagiakan. Menumpang bemo dan bajaj menemani nenek ke pasar, bermain sepak bola di Sudirman bersama kawan kala Ahad pagi, saya baru tahu ada CFD juga saat saya masih kecil, dan kalau beruntung, naiklah saya berkeliling kota Jakarta menggunakan bis double decker.

85faa33e68550c8cea0cdf069d88ede8

Bus Double Decker Jakarta (Pinimg)

Sebagai anak metropolitan, saya sangat senang setiap kali diajak ke tempat rekreasi yang sifatnya artifisial khas perkotaan seperti McD Sarinah, Jakarta Theater, Planet Hollywood, Taman Ria Senayan, Taman Impian Jaya Ancol dan Dunia Fantasi tentunya.

Selain itu juga saya sangat senang dengan kuliner, khususnya jajanan pasar, kota jakarta ini. Mulai dari kue pancong, kue rangi dengan aroma kayu bakarnya, dan tak ketinggalan dodol betawi pastinya.

Dewasa di Jakarta

Jalan dan jajan, dua hal yang selalu menghiasi masa kanak-kanak saya, perlahan harus bergeser ketika saya mulai beranjak dewasa. Kota para pekerja, mungkin cocok bila saya menyebutnya seperti itu.

Saya sempat bersekolah selama lima tahun di Jakarta, beruntung itu pun masih kisaran selatannya Jakarta Selatan, Jadi sejujurnya saya jarang keliling Jakarta karena memang tidak betah dengan transportasi umum yang ada dan kemacetan yang luar biasa mengerikan.

maxresdefault

Kemacetan Jakarta (ytimg)

Menjadi pemuda ibukota pada 2000-an awal, saya senang sekaligus ngeri rasanya melihat kota Jakarta. Arus urbanisasi tak terbendung, kemacetan dan kasus kejahatan senantiasa mewarnai berita ibukota. Tanpa sadar, saya sering mendendangkan lagu Berkacalah Jakarta saat perjalanan pulang menuju rumah.

Menariknya, Jakarta yang saya rasakan saat ini sudah jauh berbeda seperti Jakarta yang dulu. Jakarta kini tidak bisa dipandang sebagai satu daerah sendiri, melainkan pusat kota megapolitan yang ditopang oleh kota-kota di sekitarnya. Nah pusing deh tuh banyak orang dateng numpang nyari makan doang di Jakarta.

Seru!

Ya seru! Menyaksikan Jakarta yang semakin dewasa, pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang tak pernah berhenti, MRT, Jalan Tol, RTH-RTH baru, dan yang utama dan tak boleh terlupakan adalah pembangunan manusianya.

Meski saat ini saya masih tinggal dan mencari makan di Jakarta, saya ada rencana beberapa tahun ke depan untuk kembali ke Jakarta. Itu artinya? Mari merantau lagi.


Blogpost ini dimuat sebagai bagian dari tulisan #1Minggu1Cerita, yang mau ikutan sabar aja ya, karena pendaftaran dibuka lagi tengah tahun nanti. Yang rajin dulu aja nulisnya, baru nanti daftar lagi. Dadah.

ajzaoude

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *