Rumah Kopi Singa Tertawa

ISBN : 9789791079266
Author : YUSI AVIANTO PAREANOM
Language : INDONESIA
Date Published : September 2011
Type : SOFT COVER
No. of Pages : 172
Dimensions (cm) : 14×21

Anda mungkin sering tertawa dengan lawakan-lawakan layar kaca. Namun anda harus membaca buku ini jika ingin tertawa dengan elegan. Buku ini memang bisa dikatakan tidak lazim. Anda harus mengerahkan segenap fokus pikiran untuk menikmati buku ini.

Kumpulan cerita ringkas ini sangat cocok dinikmati dalam berbagai posisi dan situasi. Di dalam setiap ceritanya anda akan menemukan hal yang sangat tak terduga. Bahkan untuk cerita berjudul ‘sengatan gwen’, saya tidak bisa berhenti terbahak setidaknya untuk lima menit. Haha.

Namun beberapa cerita membutuhkan ‘pengetahuan lebih’ dalam menikmatinya. Seperti pengetahuan tentang setting keratonsentris, beberapa tokoh dalam cerita pewayangan, semacam kutukan dan sebagainya.

Overall, saya sangat menyukai buku ini. Dan saya merokemndasikannya bagi anda yang ingin tertawa dengan cerdas

Anak Rembulan – Djokolelono

Paperback, 350 pages
Published August 2011 by Penerbit Mizan / Mizan Fantasi
ISBN139789794336373
edition language : Indonesian
original title : Anak Rembulan – Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari
author : Dkokolelono

Untuk pembaca yang tidak terbiasa dengan kisah fiksi fantasi,bisa dibilang aneh melihat seorang anak menggunakan seragam Manchester united merah menyala dalam keremangan. Apalagi judul yang tertulis pada cover buku ini, Anak Rembulan, membuat kita berpikir keras untuk mencari korelasi antara judul dan ilustrasi cover. Namun kita sedikit terbantu dengan adanya subjudul yang tertera di cover. Jika diperhatikan dengan seksama maka ilustrasi pada cover belakang cukuplah membantu pembaca untuk menerka isi dari Anak rembulan ini. Siluet sekelompok orang yang mungkin kelompok petualang dan, Aha! sebuah rembulan.

Nono, seorang anak kota yang tengah berlibur ke rumah kakek-neneknya di kampung tiba-tiba mengalami serangkaian kejadian diluar nalar manusia. Mulai dari terjebak dalam pohon kenari, bertemu dengan sekelompok pencuri, bahkan bertemu dengan gadis bermata biru dan rambut pirang! Padahal ia sadar tengah mengendarai sepeda ke Njari dari rumah mbah-nya di wlingi.

Dalam buku ini, Nono digambarkan sebagai seorang anak yang pemberani, meski maut di depannya mengintai. Namun bagi sebagian orang pasti merasa terganggu dengan ilustrasi bocah berkaus merah di cover depan buku ini. Jika sebatas melihat nono di cover buku, maka akan terlihat bocah kota yang manja, tambun, dan sedikit nakal dari tatapan matanya. Padahal nono yang diceritakan dalam buku jauh berbeda dengan nono yang ada dicover. So, benar adanya istilah don’t judge a book by its cover.

Selain nono ada beberapa tokoh pendukung yang bisa dibilang dengan apiknya dikisahkan untuk membantu serangkaian perjalanan Nono. Ketika konflik diturunkan oleh penulis setiap tokoh memainkan perannya masing-masing. Imho, djokolelono terbilang handal dalam membagi-bagikan peran kepada tokoh-tokoh dalam buku ini.

Alur cerita yang tidak monoton ditambah dengan variasi karakter menjadi nilai tambah dalam buku ini. Padahal ide dasarnya sungguh sederhana! Ya, itu dapat menjadi parameter kelihaian penulis dalam bercerita.

Namun terlepas dari apiknya permainan karakter ada beberapa hal yang mengganjal. Sebut saja pengulangan deskripsi setting yang digunakan, hal itu terasa menggemaskan bagi pembaca. Satu hal lagi, penggunaan bahasa asing. yak! Anak Rembulan memang memiliki cita rasa lokal, dan sangat aneh jika memaksakan penggunaan istilah asing sebagai judul bab! padahal penulis masih bisa menggunakan bahasa indonesia untuk menggantikan kata tersebut.

well, singkat kata Anak Rembulan merupakan karya fiksi-fantasi dengan cita rasa lokal yang kental. jika anda ingin membaca kisah fiksi-fantasi sekaligus mempelajari sedikit mitos-mitos yang berkembang di tanah jawa, maka buku ini layak untuk anda baca.

Burangrang 2050mdpl (24-1-12)

Simpang Dago pagi hari, sunyi senyap
Sepanjang jalan, menyusuri rumah warga lewat jalur komando
Pos Komando pun sudah terlihat
Foto Cantik Dulu sebelum jalan dari pos
Istirahat pertama, baru sebentar padahal
Mulai ketemu tanjakan
Itu jalur menuju danau
Danau dari kejauhan
Kabut Tipis Mulai Turun
Sejenak istirahat (lagi)
Sisa-sisa diksar (sepertinya)
Tanaman di tepian jurang
di depan kaki saya itu jurang looh
Tanjakan yang (cukup) ekstrim
Yang jelas ini bukan batu nisan
Tugu Puncak Burangrang
Puncak Burangrang
Puncak Burangrang banyak sampah
Puncak Burangrang
Setelah jalan 2,5 jam.. istirahat sejenak
Akhirnya Menemukan Peradaban, setelah jalan lebih dari 2,5 jam

– Terimakasih –
Untuk Mamang angkot yang membuat kita menunggu sampai bosan
Untuk Mamang di Pangkalan Ojek yang ngasih tau arah ke gerbang komando
Untuk Penjaga Post gerbang Komando atas kesempatan beristirahatnya
UntukYoga atas perjalanan dan bekalnya
Untuk rekan-rekan pencinta alam, kami jadi sadar pentingnya peralatan memadai
Dan untuk akang2 dengan motornya yang bersedia nganterin kita sampe rute angkot
Oh ya, untuk Yoga lagi yang ngingetin kalo kunci kosan gw jatoh di jalan ^o^

Nice Trip
^^